JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu

Dalam Joyomartanan Solo, Klasik Bergaya Jawa-Eropa

2544 Kali

RUMAH190.COM—Dewasa ini, banyak kalangan membuat rumah dengan konsep klasik. Sebut saja keberadaan pendapa yang merupakan bangunan khas adat Jawa sebagai ruang sosialisasi yang ditempatkan pada bagian depan rumah. Tren itu terus berkembang. Ada yang menggunakan kayu tua, tapi ada pula yang menggunakan kayu yang benar-benar baru untuk merealisasikan seni arsitektur klasik tersebut.

Di Solo, tepatnya di Kampung Kalirahman, Kelurahan Gandekan, Serengan, terdapat sebuah rumah klasik yang benar-benar klasik. Warga sering menyebutnya Dalem Joyomartanan. Rumah itu menempati lahan seluas 1.700 meter persegi dan dikelilingi tembok tinggi.

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

Berkunjung ke Dalem Joyomartanan serasa melakukan perjalanan melintasi waktu. Rumah bangsawan Jawa tempo dulu itu memberi gambaran tentang bagaimana bangsawan Jawa memilih gaya hidupnya, menunjukan simbol-simbol status sosialnya dan kiblat kultural yang menjadi orientasi kebangsawanannya.

Sama seperti rumah bangsawan Jawa pada umumnya, nama Joyomartanan diambil dari nama pemilik rumah ini, Joyomartono, seorang pengusaha krom dan batik yang mulai menempati rumah itu sejak 1941. Rumah itu kemudian diwariskan secara turun-temurun. Kini, rumah itu dimiliki oleh generasi ketiga, Almunawar.

Rumah itu diyakini berusia ratusan tahun. Sebuah penanda pada bagian tembok bangunan menunjukkan angka 1873. Namun, beberapa pakar sejarah yang datang ke rumah itu memprediksi kalau rumah itu dibangun pada tahun 1700-an bahkan lebih tua lagi.

Dari luar, rumah itu terlihat kental nuansa Eropa. Terdapat tembok bangunan yang tinggi yang mengingatkan kita pada bangunan yang ada di Keraton Kasunan Surakarta.

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

Rumah tua yang tampak elegan tersebut memiliki satu pintu pagar dengan gaya klasik Eropa. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan nama regol. Bagian itu berbentuk seperti kanopi yang menempel pada tembok di depan pintu masuk dan berada di dalam kompleks rumah. Kayu-kayu dengan ujung meruncing mengarah ke bawah mengelilingi bagian atas regol.

Bangunan ini adalah kombinasi arsitektur Eropa dan Jawa. Pada bagian depan rumah yang menghadap ke selatan itu terdapat topengan, semacam kanopi kecil yang menjorok ke luar. Topengan tersambung dengan bagian emper. Seluruh plafon emper yang memanjang dari timur ke barat terbuat dari kayu lapis. Bagian depan atas emper dihiasi kayu yang dipasang vertikal dengan ujung lancip pada bagian bawah. Kayu-kayu itu dilubangi dengan berbagai motif yang kental dengan nuansa Eropa.

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

Masuk ke dalam, sebuah pendapa berdiri kokoh disangga empat tiang utama berbahan kayu jati. Di bagian atas tiang tersebut terdapat model tumpangsari, kayu yang disusun dari bawah ke atas secara mendatar dan direkatkan dengan pasak kayu. Bagian lantai tak kalah unik. Terdapat sembilan motif keramik yang tertempel pada lantai pendapa tersebut. Masing-masing motif disusun menjadi satu kotak.

Bagian itu berfungsi sebagai ruang publik. Pendapa itu dibiarkan terbuka dari depan. Sementara di sisi kanan, kiri dan belakang berdiri bangunan lain. Di belakang pendapa terdapat ndalem yang berfungsi sebagai ruang privasi keluarga. Sedangkan sisi kanan-kiri adalah bangunan yang dinamakan senthongan.

JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu

Gaya arsitektur Eropa kental terasa di omah njero atau ndalem tersebut. Sebuah jendela besar dengan dua daun jendela berada di sisi barat. Lalu ada dua cermin ukuran besar yang pada bagian pinggirnya berukirkan ornamen gaya renaisans pada sisi utara.

Sebuah meja berbentuk oval dengan empat kursi juga berada di ruangan tersebut. Lemari-lemari klasik juga menghiasi beberapa sudut ruangan. Sedangkan pada bagian paling belakang adalah senthong. Sebuah tanah lapang di salah satu bagian rumah yang dulu digunakan sebagai tempat parkir kuda dan kereta kuda dibiarkan apa adanya.

Sayang, beberapa perabot dan ornamen di rumah itu terlihat kurang terawat. Debu-debu menempel dan belum dibersihkan.

Pemilik rumah, Almunawar, mengatakan dirinya merawat bangunan itu secara mandiri. Selama ini, beberapa bagian rumah dibersihkan semampunya. Ia belum mau mendaftarkan bangunan itu kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) karena khawatir akan mengikatnya sehingga rumah itu tak bisa digunakan untuk banyak aktivitas seperti saat ini.

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

Almunawar mengatakan pendapa rumahnya rutin digunakan sebagai Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) orang lanjut usia dan anak-anak. Pada bulan Ramadan, pendapa itu selalu dimanfaatkan untuk salat tarawih dan kegiatan keagamaan Islam lainnya. Saat Pemilu, rumahnya juga digunakan sebagai tempat pemungutan suara (TPS).

Lebih dari itu, ia membuka diri kepada seluruh kalangan yang ingin memanfaatkan rumahnya. Banyak peneliti dan akademisi dari dalam dan luar negeri yang berkunjunga ke rumah bersejarah itu. Belum lama ini, sebuah komunitas fotografi juga menggelar acara pameran foto di sana. Universitas Sebelas Maret (UNS) juga pernah memanfaatkan rumah itu untuk acara diskusi dan sarasehan.

“Saya tidak ingin mengubah fungsi sosial pada rumah ini karena memang sejak eyang saya dulu (Joyomartono), rumah ini digunakan untuk kegiatan sosial,” terang dia. (Ivan Andimuhtarom)

RELATED POST FOR CATEGORY

Bedah Rumah

0 Comments

LEAVE YOUR COMMENTS